Posted by admin on 19th May 2006
Saya dulu tu pernah kejebak dalam situasi di mana saya harus mengambil keputusan krusial dengan segera. Ini terjadi di akhir masa jabatan saya sebagai ketua hima T.Informatika ITS. Waktu itu saya bener2 lakukan serentetan sikap konyol yang akhirnya berbuntut pada kepelikan lebih besar. Ruwet wis poko’e. Saya sendiri akhirnya butuh beberapa bulan untuk bisa pulih dari kegetiran pengalaman itu. Fiuh….
Namun saya bersikeras meyakini bahwa dalam setiap kepelikan atau kemunduran pasti terdapat bibit pembelajaran atau keuntungan yang sepadan atau bahkan lebih besar dari tingkat kepelikan itu sendiri. Gara2 mbaca buku nih :p. Tapi ya jujur aja, ndak gampang mempertahankan keyakinan semacam itu.
Tapi emang benar deh, makin besar, rumit dan mbulet masalahnya, saya justru bisa belajar lebih banyak -pada akhirnya, cepat atau lambat :p. Beberapa minggu setelah kejadian yang saya ceritakan di atas terjadi, saya jadi ngerti bagaimana membangun nyali yang solid, bagaimana membuat orang lain mandeg berpikir ketika bernegosiasi, bagaimana membelokkan issue, bagaimana menyetting forum, bagaimana membangun konflik terkendali, dan masih banyak lagi yang lain. Banyak poko’e.
Tentu saja, apakah kita menganggap pengalaman memalukan kita sebagai pembelajaran atau pengalaman sampah, itu akan menjadi sama-sama benarnya. Terserah kita memutuskan untuk memilih yang mana.
Posted in Pengalaman | No Comments »
Posted by admin on 18th May 2006
You know what, a genius has a special way of seeing things - all at once, all together, and all the way to the core. He/she is able to create the essence from split and isolated parts of the whole. And he/she is able to understand the essence without having all the information.
But how? By eliminating the unnecessary and selecting the necessary features, aspects, and characteristics. It’s easy for me to say :p
Posted in Wawasan | No Comments »
Posted by admin on 18th May 2006
Di sekolah konvensional, kita diberi tugas dan dilatih untuk menurutinya, serta terkondisikan untuk menuruti aturan dari penugasan itu. Ktk gagal pecahkan masalah, maka reaksi umumnya adalah posisi blame-it-on-the-teacher. “Lha nggak diajari e”. Dan kebanyakan orang ambil sikap “Yang salah tu orang lain - bukan aku. Ujianku jelek; salah guruku ndak ngajari dengan bener. Ada masalah di keluargaku; salah bapak, ibu, dan saudara2ku ndak ngajak aku ngobrol. Klo interview yang aku ikuti jelek ndak keruan, itu salah interviewernya yang nanya2 pertanyaan2 tolol”
Klo kita ambil sikap semacam itu, maka tentunya kita menempatkan orang lain dlm posisi in-control atas kehidupan kita. Kita layaknya boneka, dan yang mengendalikan mereka. Wis, soro. Kok kayak2nya orang lain bisa berbuat apapun yang mereka mau terhadap diri kita. Kita salahkan orang lain alih2 ambil tanggung jawab dan ambil tindakan.
Posted in Hikmah | No Comments »
Posted by admin on 16th May 2006
Klo marah, siapapun juga bisa. Yang susah tu adl marah kepada orang yg tepat, dg alasan yg tepat, di saat yg tepat, dan dg cara yg tepat. Sepertinya Aristoteles yg bilang spt itu. Apapun, kita marah tu klo ada value, nilai atau aturan pribadi yg dilanggar oleh orang lain atau diri sendiri. Posting ini ditulis waktu saya lagi marah nih.
Posted in Pengalaman | No Comments »
Posted by admin on 15th May 2006
Saya merasakan betul betapa tidak fokusnya diri ini ketika menjabat sebagai Sekjen BEM ITS dan Direktur Eksekutif Unit Kegiatan Mahasiwa Entrepreneur ITS secara bersamaan. Berantakan & memalukan sekali performa kerja saya waktu itu.
Padahal kan, Kemampuan kita untuk berfokus secara jelas pada prioritas tertinggi kita -dari semisal amanah, tanggung jawab atau impian- dan untuk berkonsentrasi secara tunggal padanya hingga rampung, akan menentukan kuantitas & kualitas pencapaian kita.
Saya bersyukur Tuhan memberi saya spiritualitas yang (semoga) terberkahi, pendidikan yang cukup, akal yang luar biasa, serta segala sumber daya yang melingkupi diri saya. Tapi saya khawatir saya akan dikalahkan oleh orang-orang yang kurang beruntung ketimbang diri saya, yang mana dia mendisiplinkan dirinya untuk terus berfokus dan berkonsentrasi pada prioritas tertingginya setiap hari dalam kehidupannya.
Kemampuan untuk memasang prioritas yang jelas ini sangatlah penting. Upaya sia-sia dan prestasi di bawah rata-rata sesungguhnya muncul dari salah menempatkan atau mengarahkan prioritas. Sementara sukses datang dari kemampuan untuk memilih prioritas secara cerdas dan kemudian tetap konsisten padanya hingga tercapainya kriteria sasaran yang kita targetkan.
Hangatnya sinar matahari akan berubah menjadi sedemikian membara ketika dikumpulkan melalui lensa ke satu titik fokus. Sinar laser bekerja dengan cara serupa.
Posted in Pengalaman | No Comments »
Posted by admin on 11th May 2006
Kapan hari tu saya sempet menegur salah seorang sobat dari tempat kerja. Saya bilang, “Ngerti ga, you are not being yourself”. Saya bilang gitu karena si sobat saya tu keliatan lagi gupuh banget ama kerjaannya, yang diberikan scr mendadak & beyond her wildest expectation. Dan rasa gupuhnya tu mbikin dia bego and not being herself. Rasa gupuh emang seperti itu kan, mbikin kompetensi jadi tumpul.
Nasehat yang sewajarnya datang bisa jadi adalah, “C’mon, be yourself! Dan keluarin semua apa yang kamu punya. Seperti biasanya lah”. Kita sudah biasa mendengar seperti itu.
Tapi tampaknya perkataan itu tidaklah cukup untuk menjadikan seseorang unggul. Karena kita haruslah Melebihi Diri Sendiri. Jadi mestinya saya harus bilang gimana coba? ^_^
Posted in Pengalaman | No Comments »