Posted by admin on 29th May 2006
Entah di kehidupan sosial ataupun bisnis, coba kita sama-sama perhatikan reputasi kita dari bagaimana orang lain berpikir dan berkata tentang diri kita ketika kita tidak sedang bersamanya.
Aset dari tempat kita bekerja bisa macam-macam, bisa laptop, PDA phone, komputer server, mobil, gedung atau apalah. Tapi aset terpenting yang harus dimiliki adalah aset REPUTASI. Reputasi inilah yang akan membentuk bagaimana sebuah kepercayaan bisnis dibangun. Reputasi juga akan menjadi brand kita: tentang bagaimana kita dipandang, dicitrakan dan dipersepsikan oleh orang-orang yang dengannya atau untuknya kita bekerja. Dan tentu para relasi & pelanggan akan mempertimbangkan reputasi kita sebagai dasar untuk menjalin kerja sama.
Reputasi yang bagus tidak hanya akan meningkatkan nilai diri kita, namun juga nilai dari apa-apa yang kita hasilkan. Sehingga untuk melengkapinya, maka perlulah kita berkemampuan untuk secara konsisten menciptakan hasil tepat seperti yang diharapkan atas diri kita.
Posted in Hikmah | No Comments »
Posted by admin on 29th May 2006
Di dunia yang sudah sedemikian kompetitif ini, sayangnya masih banyak orang yang enggan raih prestasi dan performa tinggi. Kebanyakan karena harga yang dibayar emang ndak murah. Tapi emang ada ta sukses yang bisa diraih dengan harga murah. Butuh beberapa tahun untuk bisa mencapai tingkatan ahli; computer programming, public speaking, olahraga, menyanyi, apapun lah. Tapi toh ternyata tidak banyak orang yang bersedia membayar harga itu. Lebih banyak orang yang harapkan hasil cepat.
Ketimbang melejitkan diri mereka ke atas, mereka malah sungkurkan orang lain. Alih2 ciptakan kemajuan, mereka malah sibuk melakukan blaming dan making excuse. Mereka merasionalkan dan lakukan pembenaran atas performa buruk mereka. Sembari melakukan itu, mereka juga mendakwa kesuksesan orang lain sebagai nasib baik dan keberuntungan, sedangkan mereka apes. Semoga kita tidak tergolong salah satu di antara mereka.
Menyalahkan dan mencari-cari alasan memang gampang. Tapi sulitnya pasti akan kita rasakan belakangan. Berdisiplin menempa kompetensi memang susah, tapi jauh lebih menyusahkan jadi pecundang berkepanjangan.
Posted in Pengalaman | 1 Comment »